Catatan Pinggir Orang Tua Peserta IJSL

IJSL tahun 2018 dengan tema IJSL Pre Gothia Cup China telah dimulai. Sebanyak 48 perserta dibagi dalam tiga grup yaitu grup merah, grup putih dan grup biru. Masing-masing grup berisikan 16 peserta. Masing-masing peserta mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan permainan terbaiknya dalam 15 pertandingan. Bagi pelatih, ajang ini sekaligus berguna sebagai bahan evaluasi atas kelebihan dan kekurangan dalam latihan selama ini.

Permainan bergulir. Namanya pertandingan anak-anak, bisa dipastikan berlangsung seru. Anak-anak ngos-ngosan dan keringat di lapangan, sementara itu orang tua ketar ketir di pinggir lapangan. Berharap timnya menang dan tidak tersingkir.

Sebagaimana yang sering kita dengar komentar pengamat di layar televisi, pelatih sekaliber Pe Guardiola dan Jose Mourinho pun dinasehati. Seolah mereka berdua adalah pelatih yang punya kualitas biasa-biasa saja. Beberapa Champion League Trophy yang telah diraih seolah-olah tidak cukup berbicara untuk menjelaskan kualitas mereka berdua.

Orang tua di pinggir lapangan tidak kalah hebatnya, tidak kalah hebohnya dari pengamat. “Oper, gocek, shoot,” datang berbagai perintah bersliweran dari tempat penonton.

Kalau pengamat hanya sekadar mengomentari, para orang tua lebih dari itu yaitu mengomentari sekaligus seakan mengambil alih peran pelatih yang berdiri panas-panasan di pinggir lapangan. Pelatih kadang bengong dan mungkin bertanya dalam hati. Siapa sih pelatih yang sebenarnya?

Bukan begitu sebenarnya maksud para orang tua. Sebagaimana anak-anak, orang tua kalau sudah diingatkan tetap saja melakukan yang dilarang. Tanpa disadari orang tua terbawa suasana, lupa usia dan lupa segalanya. Kadang saya tertawa sendiri mendengar perintah ibu-ibu yang lucu-lucu. Ibu-ibu berdiri sambil kipas-kipas dan keringatan, sering membuat komentar asal-asalan. Saat timnya diserang untuk mengatasi rasa ketakutan, mereka berteriak, “aduh…aduh…aduuuuhhhh”. Ehhh, timnya kebobolan beneran deh.

Komentar lain tidak kalah seru, “Ayo semangat. Tempel terus. Jangan kasih kendor.” Banyak komentar lucu lainnya yang tidak kalah lucu dari acara stand up comedy.

Panitia yang bijak memaklumi hal ini. Sepanjang apa yang dilakukan masih dalam batas-batas toleransi. Spanduk untuk mengingatkan telah disebar. Panitia juga manusia. Tak luput dari salah dan kilaf. Harap para orang tua dan peserta memaklumi.

Panitia, peserta dan para orang tua saling memaklumi, ini kata kunci suksesnya turnamen ini. Janganlah dinodai emosi tak terkendali yang dibarengi caci maki  atas setiap keputusan wasit yang dirasa salah, tidak adil dan merugikan timnya saat berlangsungnya pertandingan. Ingatlah, pelatih juga manusia. Tidak semua keputusan mereka sempurna.

Jangan juga kekurangan panitia diprotes secara membabi buta. Berikanlah masukan secara beretika. Toh, acara ini bukan buat siapa-siapa. Acara ini buat kita semua. Bagi saya pribadi, panitia untuk sementara dianggap telah berhasil menjauhkan anak saya dari gadget yang bisa merusak mata, bahkan kadang jiwa.

Di luar semua itu, semangat orang tua ikut memberikan andil dalam menyemarakkan suasana turnamen ini patut diparesiasi.

Siapa pun yang menjadi juara kali, semoga turnamen ini berlangsung sukses. Lebih sukses dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Sukses buat panitia. Sukses buat peserta. Sukses buat pelatih. Sukses buat semua. Sukses buat kita-kita.

Yudisrizal, penulis buku PELAJARAN SEDERHANA LUAR BIASA, terbitan Gramedia.

Penulis, ayah dari Fikri Yudza Qeisha, peserta IJSL U 12 dari SSB Pro Direct.

This Post Has One Comment

  1. Suka dengan tulisannya Pak Yudisrizal. Isinya mirip2 dengan perasaan saya juga. Terima kasih Pak Yudisrizal dan Panitia IJSL. Semoga sukses selalu untuk kita semua dan sepakbola Indonesia.

Leave a Reply

Close Menu