Mendesak dan Sangat Perlu!

Catatan pinggir:

Pekan kedua Minggu, 18 Februari 2108, Kompetisi IJS Pre Gothia Cup China 2018

Sarasehan-Pelatihan Manajemen SSB, Mendesak dan Sangat Perlu!

Oleh Drs. Supartono, M.Pd.

(Pengamat Sepakbola Nasional, Pengamat Pendidikan Nasional)


Kompetisi Indonesia Junior Soccer League (IJSL), Pre Gothia Cup China 2018 telah merampungkan pertandingan pekan kedua, Minggu, 18 Februari 2018. Jakarta Japanese Club (JJC) Sentul City Bogor yang cukup akomodatif dengan lapangan yang sangat memenuhi standar untuk pertandingan kompetisi sepakbola anak, menjadi saksi dari keceriaan anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan jersey kebanggaan Sekolah Sepakbola (SSB) nya masing-masing beraksi mengolah Si Kulit Bundar.

Bentrok antar SSB di tiga grup, Merah, Putih, dan Biru dalam  menunjukkan kebolehan hasil pembinaan dan pelatihan mereka di SSBnya masing-masing, bertambah lengkap dengan dukungan orangtua yang saling mensuport di sekeiling dan seputar lapangan menambah semarak hajatan Liga ini.

Dalam laga-laga yang tersaji di Minggu pagi hingga siang yang diiringi cuaca cukup cerah ini, ternyata tetap masih ada hal-hal yang wajib disikapi oleh seluruh manajemen SSB peserta. Kompetisi IJSL yang telah saya klasifikasi sebagai wadah/sarana penggembelengan menejemen SSB, sarana proses pembentukan pondasi pembinaan keorganisasian SSB, agar pengurus, orangtua, dan siswanya cerdas dan santun dalam pendagogik (kognisi, afektif, dan psikomotor) bukan hanya di lapangan sepakbola, namun juga dalam lapangan kehidupan dunia yang sebenarnya pula, dunia nyata, wajib terus memberikan pendampingan kepada SSB peserta agar lulus manajemen.

Peristiwa klasik

Dalam pekan kedua ini, masih banyak dijumpai peristiwa-peristiwa klasik di seputar Lapangan JCC dan dalam pertandingan yang kalau boleh saya anggap lucu. Mengapa?

Peristiwa di seputar Lapangan JCC di antaranya, pertama, di pintu masuk Lapangan JJC terpasang spanduk besar bertuliskan larangan merokok. Faktanya, masih ditemukan beberapa orang tua siswa SSB yang dengan santainya, menghisap rokok di pinggir lapangan pertandingan sambil menyaksikan putranya bertanding. Uniknya, saat panitia menegur, Si perokok berkilah bahwa tidak mengetahui ada larangan merokok.

Kedua, banyak siswa SSB dan orangtua, yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Padahal panitia IJSL telah menyiapkan kantong-kantong sampah, sementara himbauan juga sudah dilakukan dengan berbagai cara.

Kemudian peritiwa di dalam pertandingan, pertama, ketidakpuasan pelatih dan orangtua atas kinerja wasit yang memimpin pertandingan tidak henti terjadi. Ironisnya, orangtua yang seharusnya tidak mencampuri urusan teknis pertandingan, justru terlihat lebih dominan menyuarakan protes. Jauh dari sikap yang sewajibnya, orangtua meneladani putra-putranya di luar lapangan, sementara anak-anak mereka bertanding dalam tema pembinaan.

Kedua, sikap orangtua yang tidak mengindahkan regulasi pertandingan dan selalu berada di pinggir lapangan bahkan dengan terikan-teriakan bak seorang manajer/pelatih, sementara suara pelatih justru kalah dari semangat orangtua. Apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata, di benak seluruh orangtua yang bersikap lebih dari para pembina/manajer/pelatih SSB, justru berharap anak-anak mereka memenangkan pertandingan. Sangat terlihat jelas bahwa kehadiran orangtua di sisi putranya adalah untuk mendukung anak-anaknya menjadi pemenang dan juara. Sangat tidak mendidik dan jauh dari sikap sportifitas pembinaan anak usia dini.

Hubungan Manajemen SSB-Pelatih-Orangtua?

Dari peristiwa di seputar lapangan dan di seputar pertandingan yang dilakukan khususnya oleh orangtua dan pelatih , menunjukkan bahwa SSB bersangkutan masih sangat lemah dalam hal memenej pola pembinaannya serta pola hubungannya dengan orangtua siswa. Pertanyaannya? SSB-SSB yang orangtua dan pelatihnya terlibat dalam peristiwa fakta tersebut, apakah benar manajemen kepungurasan dan manajemen kepelatihan terstruktur, terpola, dan terprogram dengan baik?

Apakah selama ini SSB-SSB tersebut memiliki program  pembinaan, salah satunya mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa tentang kurikulum pembinaan, sopan santun dan etika orangtua dalam keterlibatannya mendukung anaknya di SSB, sopan santun dan tata cara orangtua dalam mengiringi serta mendampingi anak-anaknya di setiap laga kompetisi?

SSB itu singakatan dari Sekolah Sepakbola. Yang namanya sekolah, syarat wajibnya adalah mempunya kurikulum pengajaran/pelatihan/pembinaan, mempunyai ruang pembelajaran (lapangan bola dan ruang belajar), mempunyai siswa yang akan didik/dilatih/dibina, dan siswa memiliki orangtua/wali. Berikutnya dalam proses belajar/pembinaan/pelatihan, siswa akan menerima teori dan praktik sesuai usia dan kurikulumnya, siswa akan menjalani latihan ulangan, dalam SSB bisa dalam bentuk latih tanding. Siswa akan menjalani ulangan/pertandingan festival dan turnamen, berikutnya siswa akan menjalani ujian, dalam sepakbola berbentuk Kompetisi.

Lalu di mana kedudukan orangtua? Layaknya di sekolah formal, kedudukan orangtua, tidak mungkin turut campur dalam teori dan praktik pengajaran, teori dan praktik latih tanding, teori dan praktik pertandingan, hingga teori dan praktik kompetisi.

Persoalan orangtua turut campur persoalan teknis pembinaan, pelatihan, hingga pertandingan dan kompetisi putranya di SSB, bukan hanya menjadi kendala bagi setiap SSB bersangkutan sendiri, namun menjadi kendala bagi setiap panitia penyelenggara festival/turnamen/liga/kompetisi sepakbola anak usia dini. Tidak terkecuali, di Kompetisi IJSL Pre Gothia Cup China 2018, dominasi orangtua mencampuri urusan teknis masih menjadi topik utama.

IJSL sebagai sarana/wadah penggemblengan organisasi SSB, tentu akan terus mendampingi dan mengarahkan SSB peserta yang orangtuanya masih berperilaku mencampuri urusan teknis. Bila tenryata selama proses kompetisi, orangtua maupun pelatih tidak lulus, maka Kompetisi IJSL yang tidak menerapkan regulasi degradasi, dengan sendirinya akan mendegradasi SSB yang tidak lulus manajemen.

Sarasehan/pelatihan manajemen SSB

Pada saatnya, nanti IJSL tentu akan memberikan arahan dalam bentuk sarasehan. Sarasehan dapat diartikan sebagai pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan pendapat atau saran dari seorang ahli dalam bidang manajemen untuk memecahkan atau menuntaskan suatu masalah yang terjadi. Sarasehan juga berarti penyuluhan, yaitu sama-sama ada pembicara atau penyaji yang mahir dalam bidang yang akan dibawakan terutama menyoal manajemen SSB dan hubungannya dengan orangtua sebagai aset utama bergulirnya roda pembinaan/pelatihan SSB. Tanpa orangtua, siapa yang akan membiayai anggaran SSB?

Leave a Reply

Close Menu